Saturday, March 25, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #42

Cinta Bernoda Darah #42
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #42
=========================================
“Kalian semua dengarlah baik-baik,” katanya sambil memasukkan Pedang
Besi Kuning ke dalam sarungnya.
“Untuk menjunjung nama besar Khitan dan memberi peringatan kepada Nancao
negara kecil ini agar lain kali tidak berani memandang rendah kepada kita,
aku telah memerintahkan Hek-giam-lo untuk mencuri atau merampas tongkat
ya-beng-cu dari tangan Beng-kauwcu. Sekarang aku minta kalian membantuku
untuk dua urusan lain, pertama, menangkap dan menawan Suling Emas hiduphidup,
kita bawa dia ke Khitan.”

Thursday, March 23, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #41

Cinta Bernoda Darah #41
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #41
=========================================
Tiba-tiba sikap Lin Lin berubah sama sekali, ia kelihatan agung dan angkuh,
sikap seorang puteri raja aseli. Entah dari mana datangnya sikap ini, akan tetapi
120
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
Lin Lin merasa bahwa sudah semestinya ia bersikap seperti ini, sikap seorang
junjungan terhadap hamba sahayanya”
Seluruh tubuh Hek-giam-lo yang mengerikan itu tiba-tiba menggigil dan
seperti orang yang tiba-tiba menjadi lemas, kedua kakinya ditekuk dan ia sudah
berlutut” 

Tuesday, March 21, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #40

Cinta Bernoda Darah 02 #40
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #40
=========================================
“Ha-ha, Empek Gan, kau benar-benar mencari mampus. Nah, siaplah untuk menyerahkan kepalamu karena aku sudah dapat menjawabnya” seru Suma Boan dan para tamu menjadi berisik karena mereka itu pun masing-masing ikut pula mencari jawabannya.
Empek Gan mengangkat kedua tangannya ke atas dan berseru.
“Harap hadirin jangan berisik” Suaranya perlahan saja, akan tetapi gemanya berdengung di ruangan itu, membuat semua orang kaget dan diam. Para locianpwe yang hadir di situ diam-diam mengangguk-angguk. Betapapun gila dan tololnya Empek Gan datam ilmu sastra, akan tetapi dalam ilmu silat agaknya merupakan lawan yang tak boleh dipandang ringan. 

Monday, March 20, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #39

Cinta Bernoda Darah #39
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #39
=========================================
Lin Lin teringat akan kakaknya, menengok. Sejenak ia menatap wajah cantik yang namanya amat terkenal sebagai seorang di antara Liok-koai dan ia tercengang. Wanita begitu cantik jelita, rambutnya hitam panjang, biarpun bebas riap-riapan namun harus diakui amat indah, malah menonjolkan kecantikan aseli. Wanita seperti itu disebut iblis jahat? Dan diakah yang menahan kakaknya, Bu Sin?
“Aku akan tanya kepadanya” Lin Lin sudah bangkit dari kursinya, hendak
langsung menghampiri Siang-mou Sin-ni dan bertanya terang-terangan tentang kakaknya. Melihat ini, Suling Emas menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada Sian Eng. Sian Eng maklum dan cepat ia pun berdiri dan menyambar lengan adiknya, terus ditarik dekat dan diajak duduk di kursi sebelahnya.

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #38

Cinta Bernoda Darah #38
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #38
=========================================
Untuk memperkuat kedudukan ayahnya dan juga menjaga keamanan di
istana, Liu Hwee telah membentuk sepasukan pengawal wanita yang terdiri daripada seratus orang gadis-gadis muda dan cantik, yang kesemuanya telah ia latih ilmu silat, ilmu pedang, ilmu panah dan menunggang kuda”
Kerajaan-kerajaan tetangga juga tidak ada yang berani mengganggu Nan-cao. Puluhan tahun yang lalu, beberapa buah negara kerajaan tetangga pernah mencoba untuk memusuhi kerajaan kecil ini, namun mereka kena gigit buah masam. Nan-cao yang ketika itu dipimpin oleh Pat-jiu Sin-ong Liu Gan sebagai ketua Beng-kauw dan koksu, melakukan perlawanan dan para penyerbu itu dipukul hancur. 

Sunday, March 19, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #37

Cinta Bernoda Darah #37
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #37
=========================================
Lin Lin takut setengah mati. Takut dan ngeri. Mana bisa ia menjadi
penonton? Menonton Bok Liong dipanggang hidup-hidup kemudian dagingnya
diganyang kakek liar itu? Ia melirik ke arah Bok Liong. Pemuda ini sama sekali
tidak bergerak, tubuhnya tergantung di atas balok seperti telah mati. 

Monday, March 13, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #36

Cinta Bernoda Darah #36
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #36
=========================================
Memang betul ucapan Empek Gan yang tampak ketakutan itu. Kakek liar itu
adalah Toat-beng Koai-jin Si Orang Aneh Pencabut Nyawa” Biarpun dia
kelihatan seperti orang hutan, namun seperti juga adiknya, Tok-sim Lo-tong,
kakek ini memiliki kepandaian yang hebat sekali. Dia termasuk seorang di
antara Thian-te Liok-koai, dan julukan sebagai seorang di antara Si Enam Jahat
itu memang patut baginya mengingat bahwa ada kalanya kakek liar ini betulbetul
makan daging manusia seperti yang dituduhkan Empek Gan tadi. Biarpun
ia hidup seperti orang liar, namun tidak biasa Toat-beng Koai-jin mendengar

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #35

Cinta Bernoda Darah #35
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #35
=========================================
“Heh-heh-heh, Suling Emas. Tak usah repot-repot, aku sudah berada di sini”
tiba-tiba terdengar suara keras dan parau. Suling Emas dan Ouw-kauwsu cepat
memutar tubuh dan.. kiranya manusia iblis yang dijadikan bahan percakapan itu
60
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
telah berada di situ, duduk nongkrong di atas tiang melintang dekat langit-langit
rumah sambil menggerogoti daging dari tulang paha, entah paha apa”
Dan pada saat itu juga, terdengar suara orang mengomel,

Friday, March 10, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #34

Cinta Bernoda Darah #34
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #34
=========================================
“Ceritamu itu baik sekali. Tapi, mengapa lalu terjadi permusuhan, Kongcu?”
“Nona, amatlah tidak enak mendengar suaramu yang merdu lewat mulutmu
menyebutku Kongcu..”
“Akan tetapi, kau seorang putera pangeran..”
“Dan kau pun puteri seorang goan-swe (jenderal). Setelah kuketahui bahwa
kau ini adik Bu Song yang pernah menjadi sahabat baikku, perlukah kita saling
bersikap sungkan? Apalagi kita akan mengadakan perjalanan jauh bersama,
alangkah tidak enaknya kalau kau menyebut Kongcu dan aku menyebut Siocia.”

Thursday, March 9, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #33

Cinta Bernoda Darah 02 #33
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #33
=========================================
“Apa kau bilang? Liong-twako memang baik sekali orangnya dan siapa
bilang aku tidak tahu diri?”
Suling Emas menarik napas panjang, menyembunyikan gelora dadanya yang
aneh sekali baginya. Mengapa melihat wajah gadis cilik ini di waktu pagi,
mengingatkan ia akan setangkai bunga mawar dalam hutan yang masih basah
oleh embun pagi dan yang selalu mendatangkan rasa aman tenteram di hatinya?
Lalu katanya acuh tak acuh agar gelora hatinya terselimut,

Friday, March 3, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #32

Cinta Bernoda Darah 02 #32
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #32
=========================================
Lin Lin menahan senyumnya. Gembira benar dia, serasa kepalanya menjadi
melar (membesar) saking bangga dan besar hati. Kulit hidungnya yang tipis
otomatis mekar. Bukankah ucapan Suling Emas itu otomatis mengakui kelihaian
dan kehebatannya? Bukankah itu berarti Suling Emas, pendekar besar yang
30
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
ditakuti semua orang, yang dicap seorang pendekar aneh dan tiada taranya di
kolong langit, yang dipuji-puji setinggi langit oleh Lie Bok Liong, Kim-lun
Seng-jin, dan Sian Eng, juga yang amat ditakuti oleh Suma Boan dan kaki
tangannya termasuk It-gan Kai-ong. 

Wednesday, March 1, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #31

Cinta Bernoda Darah 02 #31
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #31
=========================================
Bersama Bu Sin yang menjadi tawanan dan kekasihnya, yang menuruti
segala kehendaknya seperti patung hidup, Siang-mou Sin-ni pergi ke selatan. Ia
hendak mengunjungi Nan-cao negeri di selatan yang mengadakan persekutuan
dengan Hou-han. Biarpun Siang-mou Sin-ni seorang tokoh dunia hitam, namun
bagi Kerajaan Hou-han yang kecil itu ia merupakan seorang tokoh yang
patriotik dan ia bekerja untuk kerajaan ini. 

Monday, February 27, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #30

Cinta Bernoda Darah 02 #30
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #30
=========================================
“Banyak cerewet” Lin Lin sudah menerjang maju dan sinar pedangnya
bergulung-gulung seperti awan kuning. Para pengawal kaget dan cepat
menangkis. Di lain saat Lin Lin sudah dikurung. Maklum bahwa gadis ini
berkepandaian tinggi, para pengawal itu tidak malu-malu lagi untuk
mengeroyok, bahkan mereka terdesak hebat oleh pedang yang dimainkan secara
dahsyat itu.

Monday, February 20, 2017

Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #29

Cinta Bernoda Darah 02 #29
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 02 - Mini Serial #29
=========================================
Sian Eng merasa khawatir sekali. Ia percaya bahwa adiknya ini sekarang
telah memiliki kepandaian tinggi, jauh lebih tinggi daripada dia atau Bu Sin
sekali pun, akan tetapi karena malam itu Lin Lin memaksa hendak pergi mencari
Suling Emas, timbullah rasa khawatir di hatinya. Ia cukup mengenal watak Lin
Lin yang aneh dan angin-anginan bagaimana kalau adiknya ini kambuh gilanya
dan melakukan hal yang bukan-bukan andaikata benar dapat berjumpa dengan
Suling Emas? Siapa tahu Lin Lin akan menantangnya, akan menghinanya” Akan
tetapi, mencegah pun ia tahu akan sia-sia belaka, apalagi sekarang Lin Lin sudah
demikian lihainya.

Wednesday, February 8, 2017

Cinta Bernoda Darah 01 - Mini Serial #28

Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 01 - Mini Serial #28
Cinta Bernoda Darah 01 #28

=========================================
“Lin Lin, bocah nakal kau” Siang Eng berseru sambil menciumi
adiknya.
“Enci Eng, kau tahu siapa yang kutemui di jalan tadi? Sampai mati
kau tentu tidak akan dapat menduga,” bisik Lin Lin dengan wajah
tegang, “dia bukan lain adalah Suling Emas”
Akan tetapi Lin Lin keliru dan kecewa. Kiranya encinya sama sekali
tidak kelihatan terkejut, hanya menggumam perlahan,

“Hemmm, ya?” kemudian Sian Eng melihat seorang pemuda berdiri
termangu-mangu dan canggung menghadapi pertemuan enci adik yang
mesra itu.
“Lin Lin, kau maksudkan dia itukah Suling Emas?” Tentu saja Saan
Eng bertanya dengan suara berbisik agar tidak terdengar pemuda itu.
“Hi-hik, bukan.. bukan dia. Dia itu sahabat baikku, orangnya baik,
kepandaiannya lihai, tapi dia bukan Suling Emas, dia Lie Bok Liong koko.
Oya Liong-twako, mari sini” Mari kuperkenalkan dengan Enciku yang lihai
dan cantik” Bok Liong menjadi merah wajahnya, apalagi melihat betapa
Sian Eng dan Lin Lin tadi kasak-kusuk dan sekarang enci itu mencubit
adiknya yang tersenyum-senyum nakal. Akan tetapi karena Lin Lin
melambaikan tangan memanggilnya dan enci adik itu memandang
kepadanya, tidak enak kalau ia tidak menghampiri. Dengan jantung
berdebar ia menghampiri mereka lalu mengangkat kedua tangan
memberi hormat sambil menundukkan muka, tidak berani menatap
wajah Siang Eng karena merasa sungkan dan malu.
“Liong-twako, betul tidak kataku? Enciku cantik jelita dan.. aduhhh”
Galaknya yang tidak nguati (tak tertahankan)” Kemudian sambil tertawa
ia berkata kepada Sian Eng, “Enci Eng, Liong-twako ini baik sekali,
menemaniku sepanjang jalan, mengantarku sampai di sini, malah di
jalan membantu aku menghadapi pengemis-pengemis jahat. Orangnya
jujur, sopan, tidak kurang ajar, dan..”
240
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
“Hushhh, terlalu kau, Lin Lin” Sian Eng membentak adiknya, lalu
mengangkat kedua tangan di depan dada membalas penghormatan Bok
Liong sambil berkata halus,
“Harap Lie Bok Liong Taihiap sudi memaafkan adikku yang nakal dan
suka menggoda orang ini. Terima kasih saya haturkan atas kebaikan
Taihiap terhadap adikku..”
“Wah-wah-wah, apa-apaan ini? Taihiap-taihiapan segala macam”
Aduh, bisa mekar hidung Liong-twako kausebut Taihiap. Sebut saja
Twako, mengapa sih? Terhadap sahabat baik masih banyak sungkan dan
peraturan, itu palsu namanya”
“Eh.. oh.. maaf, Nona.. eh, saya..”
“Nah-nah-nah, Taihiap dan Nona, Tuan dan Nyonya, jemu aku
mendengarnya” Liong-twako, dia ini Enci Siang Eng, Enciku sendiri, tahu
kau? Kalau kau menyebut aku Lin-moi, Moi-moi, kadang-kadang Siauwmoi,
mengapa kepada Enciku kau menyebut Nona? Kalau begitu kau pun
harus menyebut aku Nona Besar dan aku akan menyebutmu Tuan Besar.
Hayo, bagaimana?”
Memang nakal sekali Lin Lin. Ia tidak peduli akan segala perasaan
sungkan, bingung dan malu yang dirasakan oleh Bok Liong di saat itu.
Sian Eng merasa kasihan terhadap korban kenakalan adiknya ini.
Hemmm, pikirnya, pemuda ini agaknya pendiam dan baik, tentu saja
bukan lawan Lin Lin. Teringat ia akan Suling Emas yang aneh wataknya
dan tidak pedulian itu. Rasakan kau nanti Suling Emas, kalau sampai
jumpa dengan adikku Lin Lin, bisa mati berdiri kau dipermainkan” Tibatiba
ia teringat akan pemberitahuan Lin Lin tentang Suling Emas tadi,
wajahnya berubah serius.
“Lin Lin, jangan mengganggu orang. Kita masih harus bicara banyak.
Sin-ko sampai sekarang belum juga datang.”
Lin Lin sadar lalu menoleh kepada Bok Liong.
“Liong-twako, jangan marah, ya? Aku juga berterima kasih padamu,
lho” Kau memang baik sekali kepadaku. Sekarang aku sudah bertemu
dengan Enci Sian Eng, hanya tinggal kakakku Bu Sin yang masih belum
241
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
kami ketahui berada di mana. Apakah kau suka menolongku mencarinya,
Twako?”
“Aku akan girang sekali kalau dapat membantumu mencari kakakmu,
Lin-moi. Tentu akan kutanya-tanyakan kepada kenalanku, harap jangan
khawatir.”
“Kalau begitu, aku dan Enci Sian Eng akan menanti di sini beberapa
hari, menanti berita darimu tentang Sin-ko.”
“Lin Lin, Lie Bok Liong Ta..”
“.. Twako..” Lin Lin memotong.
Siang Eng merah mukanya dan memandang tamunya kebetulan Bok
Liong juga memandang. Terpaksa dua orang muda yang menjadi malu
dan jengah ini tersenyum dan seketika suasana menjadi lebih wajar,
rasa malu menipis.
“Baiklah” Liong-twako masih lelah, baru saja datang masa sudah
kauserahi tugas lagi. Jangan keterlaluan, dumeh (mentang-mentang)
orang suka menolong kau lalu menekan.”
“Ah, tidak.. sama sekali tidak” Bok Liong cepat membantah. “Ji-wi
Moi-moi (Adik Berdua) tak usah sungkan. Aku sudah mendengar semua
dari Lin-moi dan aku pasti akan berusaha sedapat mungkin untuk
mencari berita tentang kakak kalian. Harap saja dalam waktu dua pekan
ini kalian tidak pergi dari tempat ini, atau andaikata pergi dan pindah
juga, memberi tahu kepada para Losuhu di sini sehingga kalau aku
datang, aku akan dapat tahu ke mana harus menjumpai kalian untuk
menyampaikan hasil usahaku mencari kakak kalian, sekarang aku pamit
dulu.”
Melihat Bok Liong memberi hormat lalu mundur dan hendak pergi, Lin
Lin cepat berseru.
“Twako, nanti dulu”
“Ada apa?” Terlalu cepat Bok Liong membalikkan tubuh dan sinar
yang memancarkan kasih mesra terlepas daripada pandang mata yang
awas.
“Aku pesan.. kalau kau bertemu dengan gembel-gembel jahat itu..”
242
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
“Ya, lalu bagaimana?”
“Aku titip tiga pukulan atau sekali tusukan pedang.”
Bok Liong tertawa dan mengangguk-angguk.
“Dan jangan lupa, kalau kau berjumpa dia di jalan katakan..”
“Dia siapa?”
“Siapa lagi kalau bukan Suling Emas? Katakan bahwa aku menanti di
kelenteng ini dan sampaikan tantanganku kepadanya”
Sian Eng terkejut bukan main akan tetapi ia masih sempat melihat
betapa wajah pemuda itu membayangkan ketidaksenangan hati. Akan
tetapi Bok Liong kembali mengangguk-angguk, lalu berkata,
“Baiklah, Lin-moi, dan kau.. kau yang baik-baik menjaga diri.. selamat
berbisah sampai jumpa lagi.” Ia melompat dan pergi dari situ.
Sian Eng memperkenalkan Lin Lin kepada para hwesio kepala di
kelenteng itu, kemudian mengajak adiknya masuk kamar untuk
bercakap-cakap. Begitu memasuki kamar, Sian Eng menegur adiknya.
“Lin Lin, kau terlalu sekali terhadap pemuda itu. Tak tahukah kau
betapa dia amat mencintamu? Tapi kau selalu mempermainkan dia.
Terlalu”
“Liong-ko? Mencintaku? Tentu saja” Aku pun mencintanya, dia seperti
kakakku sendiri.”
“Hush, bukan begitu. Dia mencintamu, hal ini kuyakini benar. Tapi
kau.. ah, kau masih anak-anak, adikku. Sudahlah, kelak kau mengerti
sendiri. Eh, kau tadi bilang bertemu dengan Suling Emas. Betulkah itu?
Di mana?”
“Di dekat pintu gerbang kota. Dia naik kuda, jubahnya hitam,
orangnya tinggi besar, tampan dan gagah, tapi sombong”
“Sombong?”
“Ya, sombongnya setengah mati” Agaknya dia yang telah berkali-kali
menolong aku dan Liong-twako, akan tetapi dengan sembunyisembunyi,
tidak sudi menemui kami. Uhhhhh, sombong sekali agaknya
mengandalkan kepandaian dan memamerkan tampannya”
243
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
Tiba-tiba Siang Eng memegang lengan Lin Lin.
“Adikku, kau bilang dia telah menolongmu berkali-kali akan tetapi kau
memaki-maki dia dan kau malah menantangnya berkelahi? Adakah yang
lebih gila dari ini? Jangan begitu, Lin Lin, pula.. kau menantang seorang
yang berilmu tinggi seperti Suling Emas, apamukah yang kau andalkan?
Lin-moi, ketahuilah, dahulu kita mengira bahwa kita sudah memiliki
kepandaian silat, kiranya sekarang kenyataan membuktikan bahwa apa
yang kita miliki tidak ada artinya sama sekali.”
“Wah-wah, jangan merendah, Enci Eng” Aku tidak takut kepada
Suling Emas. Ya, aku akan mencarinya, menantangnya berkelahi sampai
seribu jurus. Aku tidak akan kalah. Lihat, Enci, aku bukanlah Lin Lin yang
dahulu lagi” Lin Lin menggerakkan tangan kirinya seperti melambai ke
arah sebuah patung batu. Sebetulnya ia mengerahkan Khong-in-ban-kin
dan melakukan jurus pukulan jarak jauh dan.. patung itu terjengkang ke
belakang seperti didorong oleh tenaga raksasa yang tidak tampak.
“Lihat, Enci, apa kau bisa mengikuti gerakanku?”
Sian Eng yang melongo menyaksikan adiknya merobohkan patung
tanpa menyentuhnya, menjadi makin terheran-heran ketika melihat
tubuh Lin Lin berkelebatan di dalam kamar yang luas itu, demikian cepat
sehingga bayangannya lenyap terbungkus sinar kuning yang bergulunggulung”
Ia masih melongo dan tidak dapat mengucapkan kata-kata
ketika Lin Lin sudah selesai bermain pedang dan berdiri di depan encinya
sambil tersenyum bangga.
“Kau lihatlah, Enci. Adikmu ini sekarang tidak takut lagi menghadapi
Suling Emas, biarpun ia berkepala tiga berlengan enam”
“Astaga, Lin Lin, dari mana kau peroleh kepandaian itu?”
Lin Lin merangkul encinya dan sambil duduk berendeng di atas
pembaringan, berceritalah Lin Lin tentang pertemuannya dengan Kimlun
Seng-jin yang ia sebut si gundul pacul, kemudian tentang
pertemuannya dengan Lie Bok Liong sampai akhirnya bertemu dengan
Sian Eng di kota raja. Sian Eng mendengarkan dengan penuh
kekaguman, kemudian merangkul Lin Lin sambil berkata.
244
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
“Ah, aku girang sekali, Lin-moi. Kiranya orang sakti yang menolongmu
telah mewariskan ilmu kepandaian hebat kepadamu” Dan kau
memperoleh pula seorang sahabat yang setia dan perkasa seperti Lie
Bok Liong. Syukurlah. Akan tetapi, aku masih tidak setuju akan sikapmu
terhadap Suling Emas. Ketahuilah, dia itu bukan musuh kita, bukan
pembunuh ayah bunda kita, malah dialah yang telah menolong Sin-ko
dan aku sendiri, bahkan menurut ceritamu, dia telah pula menolong
engkau dan Liong-twako.”
“Dia menolongmu dan Sin-ko? Bukan pembunuh ayah bunda kita?
Coba ceritakan semua, Eng-cici”
Sian Eng lalu menceritakan semua pengalamannya semenjak mereka
berpisah di atas gedung Pangeran Suma. Lin Lin merasa ngeri ketika
mendengar cicinya bercerita tentang Hek-giam-lo dan “istana” di bawah
kuburan. Akan tetapi ia membelalakkan kedua matanya, wajahnya
berubah dan meremang bulu tengkuknya ketika ia mendengar
pengalaman Siang Eng di antara bangsa Khitan, betapa Sian Eng
disangka Puteri Khitan. Jantungnya berdebar-debar dan tulang
punggungnya terasa dingin.
“Apa yang kau alami di sana, Enci Eng? Ceritakanlah yang jelas”
desaknya dengan suara gemetar. Dan ia mendengar penuturan yang
membuat degup jantungnya mengeras dan membuat hatinya yakin siapa
sebetulnya dirinya, dan bahwa semua kata-kata Kim-lun Seng-jin adalah
benar belaka.
“Mereka itu orang-orang yang kelihatan gagah perkasa, akan tetapi
kasar dan liar, adikku. Dan anehnya.. banyak wanitanya, terutama yang
berada di istana rajanya, mirip.. mirip dengan kau” Aku mereka sangka
seorang Puteri Khitan dan.. dan aku ditelanjangi untuk diperiksa
punggungku, katanya Puteri Khitan mpmpunyai tanda di pung... astaga,
Lin Lin”
Sian Eng menjadi pucat sekali dan melompat berdiri, memandang
wajah adiknya dengan mata terbelalak.
“Kau.. kau.. punggungmu..”
245
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
“Tenanglah, Enci Eng, dan duduklah. Kau berceritalah baik-baik dan
sejelasnya. Memang ada tanda tahi lalat merah di punggungku, dan
agaknya, memang akulah Puteri Khitan yang mereka cari-cari itu. Aku
sudah mendengar dari Kim-lun Seng-jin, tadi sengaja tidak kuceritakan
kepadamu akan hal ini karena kuanggap masih rahasia. Akan tetapi,
setelah mendengar ceritamu, jelas siapa yang mereka maksudkan
dengan Puteri Khitan. Agaknya dahulu Ayah memungutku dari keluarga
Khitan, agaknya Ibuku, Puteri Mahkota Khitan, tewas dalam perang
melawan Ayah, lalu aku dipungut anak. Nah, sederhana sekali, bukan?
Lanjutkanlah.”
Untuk beberapa lama Sian Eng tak dapat bicara. Dipandangnya wajah
Lin Lin, kemudian dirangkul dan diciuminya adiknya itu sambil berlinang
air mata.
“Kau bukan seorang di antara mereka. Kau adikku” Ah, mereka begitu
kejam, begitu kasar dan liar..”
“Ha..ha..,ha Kau lihat aku baik-baik. Aku memang berbeda
denganmu, Cici. Aku juga kasar dan liar, seringkali kau katakan begitu,
akan tetapi aku tetap adikmu. Jangan khawatir dan teruskan ceritamu.”
Sian Eng melanjutkan ceritanya sampai ia dikubur hidup-hidup
sebatas leher dan ditolong oleh Suling Emas, melakukan perjalanan
dengan Suling Emas sampai ke kelenteng di kota raja ini.
Lin Lin amat tertarik dan beberapa kali ia menarik napas panjang.
“Ah, alangkah senangnya melakukan perjalanan bersama orang aneh
itu. Dia orang macam apa, Enci Eng? Ramahkah dia? Atau galak?
Sombongkah dia seperti yang kusangka? Dan kepandaiannya
bagaimana?”
Diam-diam Siang Eng terkejut. Nada suara adiknya ini demikian
penuh perhatian. Ada apakah gerangan? Ia merasa khawatir kalau-kalau
adiknya ini nekat saja menuduh Suling Emas membunuh ayah bunda
mereka dan nekat mencari dan menentangnya bertempur.
“Dia memang orang aneh, Lin Lin. Aneh sekali tidak seperti manusia
biasa sepak terjangnya. Kepandaiannya sukar diukur sampai di mana
tingginya karena aku tidak dapat mengikuti gerak-geriknya. Ia pendiam,
246
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
tak pernah bicara kalau tidak menjawab pertanyaan, itu pun singkat
saja, hanya ya atau tidak. Wajahnya sering kalii suram-muram seperti
ada sesuatu yang menekan batinnya, ia sama sekali tidak ramah. Tak
pernah melihat ia tersenyum, apalagi tertawa. Ada satu kali dia
bersenandung, suaranya cukup baik tapi menggetar penuh kesedihan. Ia
tidak pernah mengajak aku bicara tentang dirinya, akan tetapi harus
kunyatakan bahwa dia adalah sesopan-sopannya lelaki.”
Lin Lin amat tertarik dan matanya sayu merenung, bibirnya bergerak
seperti bicara kepada diri sendiri,
“Wajahnya tampan dan gagah, sikapnya angkuh.. seperti raja saja
dia..”
“Kau bilang apa, Lin Lin? Mengapa seperti raja?”
Lin Lin sadar dan tersenyum,
“Enci Eng, bagaimana tentang Sin-ko? Katanya juga ditolong Suling
Emas, tapi mana Sin-ko sekarang?”
“Menurut Suling Emas, Sin-ko berada dalam keadaan selamat, bebas
dari tangan Suma Boan yang jahat. Katanya Sin-ko tentu akan ke kota
raja, maka aku disuruh menanti di kelenteng ini. Tapi sampai sekarang
Sin-ko belum juga muncul, malah kau yang muncul lebih dulu.”
“Mudah-mudahan Sin-ko selamat dan kita bertiga dapat berkumpul
pula. Eh, bagaimana tentang kakak sulung kita, Enci Eng? Apakah kau
sudah mendengar tentang dia?”
“Berita yang kudengar tentang Kakak Bu Song tidak baik. Ketika aku
dan Sin-ko diserang di rumah Suma Boan, putera pangeran itu agaknya
dahulu bermusuhan dengan kakak sulung kita itu dan kemarahannya
kepada kakak sulung kita ia tumpahkan kepada aku dan Sin-ko. Dan
menurut Suling Emas, Kakak Bu Song itu sudah.. sudah mati, katanya.
Akan tetapi ia pun tidak mau bicara dengan jelas, hanya ia kelihatan
seperti seorang yang membenci Kakak Bu Song.”
“Hemm, pesan Ayah itu harus kita penuhi. Bagaimanapun juga kita
harus dapat bertemu dengan Kakak Bu song. Kalau Suma Boan
membenci kakak kita itu dan membalas dendam kepada kau dan Sin-ko,
247
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
berarti dia tidak tahu di mana adanya Kakak Bu Song sekarang.
Sebaliknya, Suling Emas bisa mengatakan bahwa kakak kita itu mati,
berarti dia tahu di mana adanya Kakak Bu Song, atau kalau memang
betul sudah mati, bagaimana matinya dan di mana kuburnya. Aku akan
mencarinya dan bertanya tentang kakak kita, Enci Eng.”
“Apa? Kau hendak menjumpai Suling Emas? Tak seorang pun, juga
semua hwesio di sini yang memujanya, tak seorang pun tahu di mana
adanya Suling Emas. Mana kau bisa mencarinya, Lin-moi? Dia seorang
yang luar biasa sekali, kalau dia tidak menghendaki, tak seorang pun
dapat menemuinya.”
“Wah-wah, apa dia itu melebihi raja dan malaikat? Enci Eng, kita tidak
boleh mendewa-dewakan siapa pun juga, biar seribu kali dia menolong
kita kalau dia menghendaki dipuja-puja karena pertolongannya, aku
tidak sudi ditolong. Kalau dia manusia biasa, kurasa aku akan dapat

mencarinya”

Bersambung ke seri 02...

Cinta Bernoda Darah 01 - Mini Serial #27

Cinta Bernoda Darah 01 #27
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 01 - Mini Serial #27
=========================================
Jawaban teriakan Lin Lin ini adalah suara ketawa yang disusul
munculnya seorang laki-laki tua berpakaian pengemis. Kaki kiri kakek
pengemis ini buntung, sebagai penggantinya ia memegang sebatang
tongkat panjang, tongkat yang bengkak-bengkok seperti tubuh ular.
Pakaiannya yang penuh tambalan itu serba lorek dan belang-belang
seperti kulit ular. 

Tuesday, January 31, 2017

Cinta Bernoda Darah 01 - Mini Serial #26

Cinta Bernoda Darah #26
Cerita Silat Kho Ping Hoo: Cinta Bernoda Darah 01 - Mini Serial #26
=========================================
“Baiklah, aku pun akan tidur di sini, kau tidur di situ. Besok pagi-pagi
kita bangun melanjutkan perjalanan ke kota raja.”
“Nah, begitu baru adil namanya,” kata Lin Lin melihat pemuda itu
merebahkan diri telentang dekat api unggun. Ia pun lalu merebahkan
diri miring, membelakangi api unggun yang menyilaukan mata, berbantal
tangan. Melihat ini, Bok Liong lalu melempar bungkusan pakaiannya.

“Nih, pakailah untuk bantal, lumayan.”
Lin Lin tidak membantah, memberi hadiah senyum terima kasih lalu
meramkan matanya. Bok Liong tentu saja tidak mau tidur, maklum
bahwa kalau tertidur keduanya di tempat itu, akan berbahaya sekali.
Yang paling berbahaya adalah ular, karena ada beberapa macam ular
yang tidak takut akan api. Juga, kalau api unggun padam tidak ada yang
tahu. Ia tadi merebahkan diri hanya untuk memanaskan hati Lin Lin agar
nona itu mau tidur. Karena gadis itu rebah membelakanginya, dengan
leluasa ia dapat memandang belakang tubuh Lin Lin dan pikirannya
melamun jauh, mata dan bibirnya membayangkan gelora hati yang
penuh kasih dan rindu. Inilah yang menjauhkannya daripada
kewaspadaan. Ia tidak tahu bahwa belasan pasang mata sedang
mengintai dari tempat gelap”
Tiba-tiba, selagi Bok Liong melamun muluk-muluk, tampak sinar-sinar
kecil berwarna putih berkelebatan menyambar. Bok Liong, seorang
pendekar muda yang terlatih dan sudah banyak makan asam garamnya
pengalaman dunia kang-ouw, terkejut bukan main. Bukan sinar-sinar
putih yang menyambar ke arah dirinya yang ia kejutkan, melainkan sinar
yang menyambar ke arah diri Lin Lin yang sudah pulas” Tanpa berpikir
panjang lagi, semata-mata untuk melindungi diri gadis itu daripada
bahaya maut, ia membuang dirinya ke depan Lin Lin sambil
mengebutkan kedua lengan bajunya.
Cepat sekali gerakannya sehingga gerakan ini membuat beberapa
batang jarum halus yang tadinya menyambar ke arahnya, terbang lewat
dan menancap ke dalam dinding. Ia berhasil pula menyelamatkan Lin
221
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
Lin, akan tetapi dua batang jarum tak berhasil dikebut runtuh dan
langsung menancap pada pangkal lengannya sebelah kiri.
“Twako.. ada apa..?” Lin Lin melompat bangun dan secepat kilat ia
melompat lagi mendahului Bok Liong. Sebagai seorang ahil silat tinggi,
begitu sadar daripada tidurnya Lin Lin sudah berada dalam keadaan siap
siaga dan sedetik ia mengira bahwa Bok Liong secara kurang ajar telah
mendekatinya. Selagi ia hendak memaki sambil mencabut pedangnya
tiba-tiba ia melihat Bok Liong merintih-rintih dan menggaruk-garuk
pangkal lengan kirinya.
Pada saat itu tampak sinar putih menyambar-nyambar pula.
Maklumlah Lin Lin bahwa mereka diserang oleh lawan dengan senjata
rahasia, maka cepat ia memutar pedangnya, melompat ke depan Bok
Liong dan sinar kuning pedangnya merupakan gulungan yang memukul
runtuh sinar-sinar putih bersambaran itu.
“Jangan gerak, cabut jarum gosokkan ini” tiba-tiba terdengar suara
dari jauh, hanya gemanya saja yang terdengar, akan tetapi tahu-tahu
ada sebuah benda kecil melayang jatuh dekat Bok Liong. Ternyata
benda itu adalah sebuah bungkusan kecil. Bok Liong tadinya merasa
gatal-gatal bukan main pada pangkal lengannya sehingga biarpun ia
tahu bahwa menggaruknya merupakan pantangan yang berbahaya,
namun ia tidak kuat menahan.
Mendengar suara itu ia terkejut, akan tetapi juga girang melihat
datangnya bungkusan. Apalagi melihat bahwa Lin Lin tidak terluka,
bahkan gadis ini sekarang berdiri melindunginya. Cepat ia merobek
bajunya pada lengan tangan, menggunakan penerangan api unggun
yang masih bernyala besar untuk mencabut keluar dua batang jarum
yang hampir amblas semua ke dalam daging. Bungkusan itu ia buka,
ternyata isinya bubuk berwarna kuning. Tanpa ragu-ragu lagi Bok Liong
menggosok-gosokkan bubuk kuning ini pada kedua luka kecil di pangkal
lengan kiri. Hebat” Seketika lenyap rasa gatal-gatal. Dengan kemarahan
meluap Bok Liong mencabut pedangnya, melompat berdiri di samping
Lin Lin dan berseru.
222
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
“Penjahat berhati binatang berwatak pengecut” Kalau memang ada
kepandaian, keluarlah dan mari kita bertempur secara orang gagah”
“Sudah lama kami berada di sini, buka matamu baik-baik, pemuda
sombong”
Bok Liong dan Lin Lin membalikkan tubuh. Kiranya penyerang gelap
itu telah berpindah tempat, kini berada di belakang mereka. Meremang
bulu tengkuk mereka memikirkan betapa bahayanya keadaan mereka
tadi. Kalau penyerang gelap ini menyerang dengan jarum-jarum halus
lagi dari belakang, bukankah amat berbahaya? Jarum-jarum itu demikian
halusnya sehingga tidak terdengar sambarannya. Hanya berkat sinar api
unggun maka jarum-jarum putih itu kelihatan berkelebat sehingga
mereka tadi dapat menyampok runtuh. Kiranya yang berada di situ
bukan hanya seorang saja, melainkan empat belas orang yang
kesemuanya berpakaian pengemis. Tahulah mereka bahwa hal ini tentu
ada hubungannya dengan tiga orang yang dirobohkan Lin Lin di gedung
Suma-kongcu.
“Hemmm, kiranya kalian adalah ahli-ahli pula dalam senjata rahasia.
Aku kagum dan mengaku kalah dalam hal ilmu senjata rahasia. Akan
tetapi, kami tantang kalian untuk menghadapi Barisan Macan Terbang
(Hui-houw-tin). Kalau tidak berani, lebih baik kalian menyerah untuk
kami tawan. Kalau kalian dapat menangkan Hui-houw-tin, barulah aku
Hui-houw-pangcu mengaku kalah.”
Diam-diam Bok Liong dan Lin Lin terkejut dan heran sekali.
Bagaimana pengemis tua ini bicara begitu aneh, menyatakan kagum dan
mengaku kalah dalam ilmu senjata rahasia? Padahal, mereka itu sama
sekali tidak melepaskan senjata, juga dalam menghadapi penyerangan
jarum-jarum tadi, biarpun Bok Liong berhasil menyampok runtuh dan Lin
Lin juga berhasil menggunakan pedang menggagalkan penyerangan ke
dua, namun Bok Liong telah terluka. Hal ini tentu saja sama sekali tak
boleh dianggap bahwa mereka berdua telah menang bertanding senjata
rahasia”
Tentu saja kedua orang ini tidak tahu bahwa di dalam gelap tadi,
setelah Lin Lin memutar pedang menyampok runtuh jarum-jarum itu,
223
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
masih beterbangan lagi jarum-jarum bertubi-tubi dan susul-menyusul
dengan cara berpindah-pindah dari pelbagai jurusan, sering kali dari
arah belakang kedua orang muda itu. Ini adalah akal Hui-houw-pangcu
yang menyerang mereka dari tempat gelap secara berpindah-pindah.
Akan tetapi, semua jarum-jarum yang menyambar dari tempat
tersembunyi itu runtuh semua bertemu dengan benda-benda kecil yang
melayang-layang dari segala jurusan dan ternyata bahwa yang
meruntuhkan jarum-jarum itu adalah daun-daunan, bunga dan buahbuahan
kecil yang secara aneh datang dari jurusan yang berlawanan
sehingga Hui-houw-pangcu tentu saja mengira bahwa benda-benda itu
dilepas oleh dua orang muda yang diserangnya” Akan tetapi, sudah
tentu Bok Liong dan Lin Lin tidak mau menyatakan keheranan ini.
Dengan marah mereka lalu melangkah maju menghadapi barisan
yang sudah tersusun di depan kuil kuno yang ruangan depannya terbuka
itu. Tiga belas orang pengemis dengan tongkat-tongkat baja di tangan,
telah memasang Barisan Harimau Terbang. Tiga orang sebagai kepala,
masing-masing dua orang sebagai sayap kanan kiri, empat orang
sebagai empat buah kaki dan dua orang sebagai ekor.
Bok Liong dan Lin Lin yang memiliki kepandaian tinggi, tentu saja
tidak merasa gentar.
“Saling membelakangi menghadapi mereka mencegah penyerangan
gelap dari belakang,” bisik Bok Liong. Lin Lin kagum dan segera menurut
nasihat ini karena memang itulah cara terbaik bagi mereka sehingga
dalam pengeroyokan mereka dapat mengerahkan seluruh perhatian ke
depan tanpa takut penyergapan gelap.
Akan tetapi, dugaan ini keliru dan terpaksa rencana Bok Liong ini tak
mungkin dipertahankan. Kiranya tiga belas orang itu sama sekali tidak
mengurung mereka sebagaimana biasanya barisan kalau mengepung
lawan yang sedikit jumlahnya. Mereka itu langsung menerjang dari
depan dengan teratur seperti gerakan seekor harimau terbang sehingga
ketika mereka menerjang maju, hanya Lin Lin yang dihujani serangan
sedangkan Bok Liong tidak menghadapi seorang pun lawan.
224
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
Lin Lin tidak gentar dan cepat memutar Pedang Besi Kuning di
tangannya, akan tetapi ia kaget sekali karena senjata tongkat lawan
yang terbuat dari baja tulen itu datangnya susul-menyusul dengan
teratur, sehingga ia sama sekali tidak sempat melakukan serangan
balasan karena repot melayani datangnya bayangan tongkat yang
seperti hujan menimpanya dari atas, kanan, kiri dan bawah”
Melihat cara penyerangan mereka ini, tentu saja Bok Liong khawatir
kalau-kalau Lin Lin celaka di tangan barisan aneh itu. Apa lagi hatinya
amat tidak enak kalau barisan itu hanya menerjang Lin Lin dan
membiarkan ia menganggur menjadi penjaga punggung Lin Lin belaka.
Ia berseru keras dan membalik lalu menerjang, membantu Lin Lin. Akan
tetapi ia masih tetap waspada, menjaga agar mereka jangan terlena dan
tertipu.
Memang Bok Liong sudah banyak pengalamannya dalam
pertempuran. Ia cukup maklum akan kelihaian pedang Lin Lin, juga ia
mengerti bahwa gadis ini kalau marah kepada lawan bisa menjadi ganas
sekali. Secara langsung mereka berdua tidak mempunyai permusuhan
pribadi dengan para pengemis, maka ia pun menganggap tiada perlunya
menurunkan tangan besi kepada mereka.
“Lin-moi, kau menahan serangan mereka, biarkan aku yang
membalas”
“Baik” jawab Lin Lin, kembali kagum karena maklum bahwa hanya
cara itulah yang memungkinkan mereka dapat balas menyerang, yaitu
yang seorang bertahan, yang seorang pula menyerang. Segera ia
memutar pedangnya menjadi segulung sinar kuning yang berkilauan
membungkus dirinya dan di lain pihak Bok Liong melompat ke belakang
Lin Lin membiarkan semua tongkat menyerang gadis itu, kemudian dari
samping ia menerjang. Hasilnya baik sekali, terdengar teriakan kesakitan
dan seorang di antara tiga orang yang merupakan bagian kepala, roboh
terguling terluka pahanya oleh ujung pedang Bok Liong.
Akan tetapi tiba-tiba pada saat itu, sinar putih bersambaran dari
belakang. Inilah yang dikhawatirkan Bok Liong. Baiknya pemuda ini
sudah waspada sejak tadi. Melihat sinar putih menyambar, cepat ia
225
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
memutar pedang sambil melompat ke belakang Lin Lin dan runtuhlah
semua jarum tersampok sinar pedangnya. Hati Bok Liong menjadi
khawatir juga. Kalau begini caranya mereka melakukan pengeroyokan,
berabe juga. Ia melirik dan melihat betapa pertahanan Lin Lin amat kuat
dan kokoh seperti benteng baja, biarpun gadis itu tidak akan mendapat
kesempatan untuk balas menyerang, namun dengan pertahanan macam
itu, biar ada dua barisan Hui-houw-tin, kiranya belum tentu akan dapat
membobolkan pertahanannya dalam waktu satu dua jam”
“Lin-moi, tahan terus, aku menangkap kepalanya” bisiknya kembali.
Lin Lin sudah percaya betul akan kecerdikan kawannya.
“Baik,” jawabnya tanpa ragu-ragu lagi. Bok Liong melompat dengan
tiba-tiba, gerakannya cepat sekali. Dengan hanya beberapa lompatan ia
sudah tiba di balik gerombolan pohon dari mana jarum-jarum itu tadi
menyambar. Dan.. apa yang dilihatnya? Ia berdiri bengong memandang
Hui-houw-pangcu yang roboh terlentang dengan tubuh kaku, kedua
tangan masih menggenggam jarum-jarum beracun” Ternyata pengemis
tua ini telah ditotok jalan darahnya yang membuat tubuhnya kaku tak
dapat bergerak untuk beberapa jam lamanya.
Siapa yang melakukan hal ini? Tak salah lagi, pikir Bok Liong, tentu
dia yang tadi telah menolongnya dengan pemberian obat pemunah
racun” Akan tetapi ia tidak ada waktu untuk mengherankan soal ini
karena di sana Lin Lin masih menghadapi pengeroyokan barisan Huihouw-
tin yang biarpun sudah roboh seorang, masih amat kuat dan
cukup berbahaya. Hatinya lega, karena dengan robohnya ketua Huihouw-
pang yang suka main jarum beracun ini, ia tidak khawatir lagi
akan serangan gelap dari belakang. Cepat ia membalikkan tubuh dan
melompat ke tempat pertempuran, serta merta menerjang dari samping.
Karena kegembiraan dan kelegaan hati melihat penyerang gelap itu tak
berdaya lagi, pemuda ini menyerang penuh semangat dan pedangnya
merobohkan dua orang pengeroyok”
Akan tetapi, biarpun berkurang tiga orang, ternyata barisan Huihouw-
tin ini malah mengamuk lebih hebat. Inilah keistimewaan Huihouw-
tin, seperti seekor harimau kalau terluka akan lebih hebat sepak
226
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
terjangnya. Hal ini adalah karena kalau barisan itu masih lengkap tiga
belas orang, ruang gerak penyerangan mereka amat sempit dan
terbatas. Makin berkurang jumlahnya, makin leluasa mereka bergerak
sehingga tampaknya makin buas. Namun, malang bagi mereka, kini
yang mereka keroyok adalah murid-murid orang sakti yang telah
mewarisi ilmu kepandaian yang amat tinggi, jauh melebihi tingkat
mereka.
Setelah kini merasa yakin bahwa dari belakang takkan ada yang
menyerang dengan senjata rahasia, dengan enaknya Bok Liong
membabati lawan seorang demi seorang secara cepat sehingga tak
sampai seperempat jam, para pengeroyok itu tinggal empat orang lagi
yang cepat melempar tongkat dan berlutut mohon diampuni” Lin Lin
gemas sekali, lengannya bergerak hendak membabat dengan
pedangnya, akan tetapi lengannya disentuh Bok Liong.
“Sudahlah, Lin-moi. Mereka hanya menjalankan perintah. Kita tidak
mempunyai permusuhan pribadi dengan mereka. Mari kita pergi”
Pengalaman dalam pertempuran ini membuka mata Lin Lin bahwa
kawannya adalah seorang pemuda yang selain lihai ilmu silatnya, juga
cerdik dan berpengalaman. Kalau saja ia tadi seorang diri menghadapi
para pengemis ini, agaknya ia akan terancam bahaya hebat. Mengingat
ini, biarpun hatinya tidak puas karena tidak boleh membunuh para
pengeroyoknya, namun ia tidak membantah dan bersama Bok Liong
mereka melompat pergi dan berlari cepat meninggalkan tempat itu.
Bulan purnama sudah condong ke barat, akan tetapi sinarnya masih
menerangi jagat. Peristiwa tadi mengusir kantuk dan mereka berjalan
terus memasuki hutan.
Malam telah menjelang fajar ketika bulan yang sudah turun itu
tertutup puncak gunung dan sinarnya menjadi suram. Keadaan yang
gelap ditambah hawa yang amat dingin memaksa dua orang muda itu
kembali berhenti di dalam hutan, memilih tempat terbuka di antara
pohon-pohon besar dan mereka berjongkok menghadapi api unggun
yang mendatangkan hawa hangat nyaman.
227
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
“Liok-twako, kau tadi meninggalkan aku untuk menangkap Hui-houwpangcu,
bagaimana hasilnya? Belum kauceritakan padaku.”
Bok Liong menarik napas panjang. Tadi ia memang sengaja tidak
bercerita, karena khawatir kalau-kalau gadis yang aneh ini bersikeras
hendak mencari penolong itu. Seorang penolong yang tidak mau
memperlihatkan diri tak perlu dipaksa muncul, dan biasanya hanya
orang-orang sakti yang bersikap seperti itu.
“Lin-moi, dalam pertempuran tadi, kita berdua hanya dapat keluar
dengan selamat berkat pertolongan seorang sakti.”
“Sudah kuduga, malah tadinya kusangka gurumu yang melempar
obat kepadamu, Twako.”
“Bukan Suhu, melainkan orang lain, entah siapa. Obatnya pemunah
racun amat manjur, dan ilmu kepandaiannya hebat sekali.”
“Bagaimana kau bisa tahu, Twako?”
“Tak ingatkah kau akan ucapan Hui-houw-pangcu yang mengaku
kalah bertanding senjata rahasia dengan kita? Padahal kita sama sekali
tidak pernah melepaskan senjata rahasia. Bagaimana dia bisa mengaku
kalah bertanding am-gi (senjata gelap)? Tidak bisa lain, tentu penolong
kita yang telah menundukkanya, mungkin dengan cara menggempur
jarum-jarumnya dengan am-gi lain yang amat lihai. Dan tahukah kau
apa yang terjadi ketika aku meninggalkanmu untuk menghajar ketua
Hui-houw-pang yang curang itu? Ia telah roboh kaku, siapa lagi kalau
bukan penolong kita yang menotoknya. Di kedua tangannya masih
penuh jarum-jarum beracun yang belum sempat ia sambitkan kepada
kita.”
“Siapakah dia Twako? Ah, setelah ia menolong kita, kenapa tadi kau
diam saja? Mengapa tidak memanggil-manggil supaya dia muncul? Aku
ingin sekali berkenalan dengan dia, Twako, ingin..”
“Ingin apa?” Bok Liong sendiri terheran mendengar suaranya yang
berbeda dari biasa, den lebih heran lagi merasa betapa dadanya sesak
dan perasaannya tidak senang. Cemburu” Tapi ia tidak sadar akan hal
ini.
228
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
“Ingin mengajak ia bertanding, menguji kepandaiannya”
Jawaban ini membuat Bok Liong melengak heran, akhirnya ia tertawa.
Gadis pujaan hatinya ini benar-benar aneh, lucu, manis dan hebat”
“Lin-moi, kalau seorang sakti tidak menghendaki dilihat orang, jangan
harap akan dapat bertemu dengannya. Terang bahwa dia membantu
kita dengan sembunyi, itu hanya berarti bahwa dia tidak mau kita
melihatnya, maka jalan terbaik hanya membiarkan dia melanjutkan sikap
itu. Memaksa dia muncul sama dengan menentang kehendaknya den ini
bukanlah pernyataan terima kasih yang baik.”
“Huh, siapa memaksa dia menolong kita? Aku sendiri sih tidak butuh
akan pertolongannya. Kalau memang dia merasa diri begitu tinggi den
begitu mulia sehingga menganggap tidak berharga mengadakan
pertemuan dengan kita, mengapa dia menolong kita tanpa kita minta?
Uh, aku belum percaya apakah benar-benar dia itu seorang sakti, lebih
tidak percaya lagi apakah dia bermaksud baik dengan pertolongannya
itu.”
“Ssstttt.. Lin-moi, kenapa kau bilang begitu..?”
Lin Lin melompat berdiri.
“Biar” Aku tetap tidak percaya bahwa dia bermaksud baik. Kau boleh
takut kepadanya, Liong-twako, akan tetapi aku tidak takut. Kalau dia
betul orang baik-baik, kenapa main rahasia-rahasiaan? Siapa sudi main
kucing-kucingan dengan orang yang tidak kita kenal? Orang begitu
hanya menonjolkan keangkuhan dan kesombongannya, merasa lebih
tinggi daripada orang lain”
Bok Liong kebat-kebit hatinya. Celaka, pikirnya. Gadis ini sudah
kumat, dan ia dapat menyelami perasaan gadis ini yang membuatnya
mau tak mau hanya makin mengaguminya. Terang bahwa Lin Lin
wataknya aneh, tapi polos, tidak takut kepada siapa pun juga, tidak suka
akan orang yang plin-plan dan palsu-palsuan. Akan tetapi betapapun
juga, hatinya merasa amat tidak enak terhadap penolongnya. Bagaimana
kalau penolong itu mendengar ucapan Lin Lin ini?
“Ahhhhhh..”
229
Sumber: http://adf.ly/2Bl5
Bok Liong melompat bangun, memandang ke kanan kiri.
“Eh, kau mengapa, Twako?”
“Lin-moi, apakah kau tidak mendengar tadi? Terang ada orang yang
menghela napas panjang, dekat sekali..”
Lin Lin ikut memandang ke kanan kiri, terheran-heran.
“Aku tidak mendengar apa-apa. Ah, Twako, kau jadi seperti anak kecil
mendengar dongeng mengerikan sehingga menjadi ketakutan dan di
mana-mana kelihatan setan. Hi-hik”
Merah muka Bok Liong, lalu ia duduk kembali.
“Lin-moi, belum lama kau terjun di dunia kang-ouw, kau belum tahu
banyak tentang orang-orang sakti..”
Sebelum Lin Lin sempat menjawab, tiba-tiba terdengar desis keras
dan Lin Lin menjerit,
“Ular..” Ia seperti sebagian banyak wanita, merasa jijik dan geli
melihat ular, akan tetapi, sebagai seorang pendekar wanita, tentu saja ia
tidak takut. Cepat sinar kuning berkelebat dan di lain saat tubuh ular
telah buntung menjadi dua potong”
Mata Bok Liong terbelalak ketika ia memandang bangkai ular itu.
“Wah, celaka, kita agaknya berhenti di daerah ular api” Ular macam
ini tidak takut api dan amat beracun. Racunnya panas dan membuat
tubuh korbannya hangus seperti dimakan api, maka ia disebut ular api.
Eh.. awas Lin-moi..” Bok Liong sudah mencabut pedangnya, dua kali ia
mengelebatkan pedangnya dan dua ekor ular roboh dengan leher putus.
Ternyata itu adalah dua ekor ular yang menyambar dari atas ke arah Lin
Lin”
“Wah.. ular api tak mungkin dapat melayang tentu ada yang
melemparkannya..” Lin-moi, awas, agaknya ada musuh menyerang..”
“Aku tidak takut” Segala pengecut curang, kalau berani muncul akan
kupenggal batang lehernya” teriak Lin Lin dengan marah sekali karena
semalam itu selalu diganggu orang-orang yang tidak mau menyerang

atau membantu dengan terang-terangan.

Bersambung..